Produksi Ikan

HALAL BI HALAL KELUARGA BESAR PPN PRIGI

Penulis : , | 06/07/2017 08:30

Prigi News, pada hari Rabu Tanggal 5 Juli 2017 Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi melaksanakan kegiatan Halal Bi Halal Idul Fitri 1438 H di Balai Pertemuan Nelayan (BPN). Acara in diselenggarakan dalam rangka mempererat tali silaturrahmi antar instansi, tokoh masyarakat stakeholder, paripurna dan utamanya adalah nelayan sebagai pelaku utama di bidang perikanan tangkap. Acara pembukaan dimulai pada pukul 09:00 WIB dengan sesi yang pertama yaitu Acara Pelepasan Paripurna Bapak Mulyadi yang pertanggal 1 Juli 2017 beliau sudah mendapatkan SK Pensiun. Dalam sambutan perpisahan tersebut Bapak Mulyadi perpesan kepada Kepala Pimpinan PPN Prigi Bpk. Dwi Yuliono Rochayadi, A.Pi,MM serta jajarannya bahwa dengan ketidak aktivannya nanti mohon untuk tidak memutus tali silaturrahmi, karena beliau masih merasa bagian dari keluarga besar PPN Prigi.

 

Acara sesi kedua yaitu acara inti Halal Bi Halal dan diawali dengan sambuatan dari Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi Bapak Dwi Yuliono Rochayadi, A.Pi, MM. Dalam kata sambutannya  menyatakan acara halal bi halal yang diselenggarakan oleh PPN Prigi merupakan salah satu cara untuk merajut tali silaturahmi antar pemerintah dengan instansi, tokoh masyarakat stakeholder dan utamanya adalah nelayan  sehingga hubungan antar instansi, stake holder dan nelayan dengan PPN Prigi dapat terjalin dengan baik dan harmonis. Di acara penghujung Halal Bi Halal tersebut di isi maidhatul Hasanah oleh K.H. Najibudaroini. Ceramah yang disampaikan yaitu sejarah Halal Bi Halal di Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum.

Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun. Pada tahun 1948, yaitu di pertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat ini.

Kemudian Kyai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunnahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”. “Itu gampang”, kata Kyai Wahab. “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘’Halal bi Halal”, jelas Kyai Wahab.

Dari saran Kyai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara guna menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kyai Wahab menggerakkan warga dari bawah.
Istilah “halal bi halal” ini dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama yaitu (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan.

Analisa kedua yaitu (halâl “yujza’u” bi halâl) adalah pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.